Kontes konten lokal jangan hanya jadi pencitraan
Posted In
Network,
News
- 00.03
- No comments
Dalam enam bulan terakhir, sejumlah operator dan lembaga lainnya sibuk menggelar sejumlah kompetisi dan program yang intinya merangkul penyedia konten lokal. Umumnya ada iming-iming kontrak kerja, fasilitas inkubator, hingga pemasaran konten secara global.
Dukungan pengembangan konten lokal pada tahun ini, pertama kali diungkapkan Bubu.com lewat ajang IDByte, untuk mencari perusahaan konten dan aplikasi pemula atau start up untuk melangkah ke kelas dunia.
Selanjutnya, ada Indosat Wireless Innovation Contest atau disingkat IWIC, yaitu ajang inovasi aplikasi dan konten yang diselenggarakan Indosat. Tak hanya uang ratusan juta yang siap memenuhi kantong pemenang, juga iming-iming kontrak kerja sama dan pemasaran menanti pemenang IWIC.
Tak ketinggalan, PT Telkom, yang meluncurkan Bandung Digital Valley (BDV) dan Jogja Digital Valley (JDV) sebagai pusa inkubasi bagi pengembang konten lokal dari kalangan mahasiswa maupun remaja pada umumnya.
Telkomsel juga merilis Telkomsel Application Developer dan Digital Creative Indonesia Competition (DCIC) yang dibungkus dalam program yang lebih besar, yaitu Digital Creative Indonesia. Sebelumnya, Telkomsel juga mengundang 68 developer lokal untuk bekerja sama dengan anak usaha Telkom tersebut.
Ajang pengembangan konten lokal memang sangat bagus, apalagi di tengah maraknya konten asing yang cenderung memboroskan bandwidth dan kapasitas jaringan operator telekomunikasi. Apalagi, nilai bisnis konten di Indonesia ternyata sangat besar, sehingga sayang bila terbuang ke luar negeri.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengungkapkan nilai bisnis industri kreatif berbasis aplikasi dan teknologi informasi pada 2012 mencapai Rp 13,1 triliun dengan pertumbuhan 9 persen setiap tahun.
Dari nilai tersebut, aplikasi games mencatat nilai Rp 1,8 triliun dan media online sebesar Rp 7,4 triliun. Bahkan menurut Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), pengembang konten mengambil jatah nilai bisnis layanan data hingga 35 persen, sedangkan operator telekomunikasi hanya 25 persen.
Bila sudah begini, sebaiknya ajang penjaringan konten lokal berkualitas bukan hanya sekedar lipstick dan pencitraan, yaitu gemerlap di awal saja dan surut di tengah jalan. Bila hal itu yang terjadi, maka wajar bila disebut ajang kontes konten tersebut hanya pencitraan saja.


Posting Komentar